Tampilkan postingan dengan label Taubat Yang Sebenarnya.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taubat Yang Sebenarnya.. Tampilkan semua postingan


Taubat berarti menyesali kesalahan yang telah diperbuat. Nasuha dapat diartikan sungguh-sungguh, jadi Taubat  Nasuha dapat diartikan sebagai menyesali kesalahan yang telah diperbuat dengan sunguh-sungguh. Sungguh-sungguh yang dimaksud di sini adalah tidak menulangi kesalahan yang sama. Akan tetapi manusia merupakan makhluk yang sangat hina yang tidak memakai akal dan pikiran mereka. Terkadang manusia ketika telah berbuat dosa, maka manusia langsung bertaubat akan tetapi keesokan harinya mereka melakukan kesalahan itu lagi dan lagi hingga tak terhitung jumlahnya. Maka taubat yang seperti ini tidak masuk dalam kategori taubat nasuha.

Sesungguhnya tidak satu manusia pun di alam ini yang terbebas dari dosa walaupun kecil. Namun demikian Allah swt dengan rahmatnya kepada hamba-hamba-Nya selalu memberikan kepada mereka yang berbuat dosa kesempatan untuk bertaubat dari segala dosa dan kesalahan. Allah selalu membukakan pintu taubat-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat selama ruhnya belum berada di kerongkongan atau matahari terbit dari barat.

Taubat dari dosa menurut Al Ghozali adalah kembali kepada Sang Maha Penutup aib dan Yang Maha Mengetahui yang ghaib (Allah swt). Ia merupakan awal perjalan orang-orang yang berjalan, modal orang-orng sukses, langkah awal para pencinta kebaikan, kunci istiqomah orang-orang yang cenderung kepada-Nya, awal pemilihan dari orang-orang yang mendekatkan dirinya, seperti bapak kita Adam as dan seluruh para Nabi.(Ihya Ulumuddin juz IV hal 3) Tentunya taubat seorang yang berdosa hendaklah dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh bukan bertaubat kemudian dengan mudahnya dia mengulangi lagi perbuatan maksiatnya. Inilah yang disebut dengan Taubat Nashuha artinya taubat yang sebenar-benarnya, murni dan tulus, sebagaimana firman Allah swt,”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Tahrim : 8)
Dosa yang dilakukan seorang manusia baik yang terkait dengan Allah swt, seperti : tidak menjalankan perintah-perintah-Nya ataupun dosa yang terkait dengan manusia lainnya, seperti : mencuri harta bendanya dan lainnya, menuntutnya untuk melakukan taubat agar Allah swt memberikan ampunan kepadanya dan manusia yang dizhalimi tersebut memberikan pemaafan kepadanya.

Tata cara taubat nashuha :
1. Meninggalkan kemaksiataan yang dilakukannya.
2. Menyesali perbuatannya.
3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya.
4. Jika terkait dengan hak-hak orang lain maka hendaklah ia mengembalikannya kepada yang memilikinya.
Read More >>
TAUBAT “Taubat Yang Sebenarnya”
             Kata taubat sudah tidak asing lagi di telinga setiap kita . Bahkan ada yang melakukannya sebagai rutinitas dalam kehidupannya. Ada juga hanya sekadar menyadari itu baik untuk dikerjakan. Terlepas atas dasar apa seseorang bertaubat, Tuhan lebih tahu hal demikian. Begitupun dengan persoalan diterimah atau tidaknya taubat  seseorang hanya Allah yang lebih tahu, namun setiap orang dapat merasakan dampak dari taubat. Seperti itulah yang akan kita bicarakan.
            Sudah cukupkah taubat itu dengan mengucapkan itighfar saja? Tentu tidak, harus ada penyesalan atas perbuatan-perbuatan tersebut di masa lalu dan tidak mengulanginya kembali. Akan tetapi keduaanya pun tidak cukup untuk mewakili hakikat taubat. Karena hal yang paling mendasar adalah melakukan perbaikan terhadap diri. Jadi kata-kata istighfar yang dilafalkan setiap waktu, bukan merupakan syarat yang wajib. Banyak kaum muslimin yang selalu melafalkan kata istighfar, namun berbuat dosa juga tidak lepas.
            Perbaikan terhadap diri dapat diawali dengan cara mengintropeksi diri.. Mengakumulasi antara dosa dan pahala yang ia dapatkan. Selalu menimbang-nimbang amalan, tidak dimaksudkan nantinya seseorang merasa cukup, karena sudah mengetahui seberapa banyakkah amal baik yang mereka kakukan. Namun dimksudkan untuk melakukan peningkatan ibadah dan senantiasa melakukan perbaikan terhadap diri, dikala mengetahui kelemahan-kelamahan selama ini. Dalam riwayat disebutkan bahwa “Hitunglah diri kalian, sebelum dihitung.” Kesempatan yang ada hanya datang sekali saja.
            Ada hal yang yang sangat penting untuk dipahami, yaitu penafsiran terhadap ayat yang mengatakan “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 82). Ya. Allah meman Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Persoalnnya kemudian, apakah kita tahu setiap perbuatan buruk yang telah dilakukan akan diampuni oleh Allah. Dan apakah setiap permohonan ampun kita dikabulkan oleh-Nya.
            Kekeliruan terhadap ayat tersebut di atas kerap kali menjebak kerangka berpikir seorang muslim, khususnya bagi orang-orang awam. Terlebih lagi yang suka menafsirkan ayat secara tekstual. Meman banyak ayat yang dapat dipahami secara langsung, tapi tidak sediikit ayat yang butuh penalaran kontekstual. Dan ayat tersebut merupakan ayat yang tergolong butuh penalaran, tidak bisa diartikan begitu saja. Apabilah ayat tersebut bernakna tekstual, maka sangat menguntungkan bagi kita. Kenapa? Karena kitabisa dengan seenakanya berbuat dosa. Karena nantinya Allah juga mengampuni, bukankah Allah itu Maha Pengampun. Berbuat dosa ya tinggal taubat saja, namun tidak seperti. Kita harus menjaga diri dari perbuatan tercela, bila pernah melakukan perbuatan yang tidak baik, maka harus segera bertaubat , beusaha untuk tidak mengulangi dan harus memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.
Read More >>
Assalamualaikum
Taubat berasal dari kata-kata taaba, yatubu yang masdarnya taubatan, artinya sama dengan raja’a-yar ji’u, A’da-ya’udu: pulang atau kembali, sedang taubat maksunya adalah kembali dari yang dilarang oleh Allah, kalau dalam perjalanan hidup ini, kita suka menerjang larangan-larangan Allah, melaksanakan apa-apa yang dilarang oleh-Nya, maka Taubat artinya meninggalkan larangan-larangan itu dan kembali kepada apa yang diperintah oleh Allah.
Sahabat Tangga, kenapa taubat ini harus disegerakan ? karena makhluk yang bernama manusia ini sulit sekali melepaskan diri dari dosa dan salah. Sabda Rasulullah.saw:
“ Setiap manusia pasti mempunyai dosa dan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang mempunyai dosa dan kesalahan ialah orang yang segera bertaubat”
Dengan kata lain orang yang baik apabila ia melakukan kesalahan dia segera sadar dijadikannya kesalahannya itu sebagai pelajaran untuk tidak di ulanginya lagi pada masa-masa kedepannya. Inilah yang digambarkan Allah SWT dalam surat Ali-Imran : 135:
“ dan orang-orang yang apabila ia terjatuh kedalam perbuatan dosa atau berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri mereka segera ingat kepada Allah dan memohon ampu terhadap dosa yang pernah mereka kerjakan”
Tahukan sahabat Tangga, memang sejak awalnya iblis sudah membuat perjanjian didepan Allah, katanya; Ya Rabbi, Demi kemuliaan-Mu aku bersumpah, saya akan selalu menggoda anak-anak adam, selama Ruh mereka masih ada dalam jasad mereka” Allah juga memberikan jaminan ketika itu, Allah menjawab pertanyaannya itu: “Demi kehormatan-Ku, demi kemuliaan-Ku hay yang terkutuk, kalaupun engkau selalu menggoda anak adam sepanjang Ruh mereka masih ada didalam jasad mereka, Aku senantiasa memberikan ampun kepada mereka sepanjang mereka memohon apun kepda-Ku”. Inilah jaminan dari Allah SWT.
Oleh karena itu, apabila kita berbicara tentang taubat artinya kita berbicara tentang tingkah laku kita dalam kehiidupan sehar-hari, apa yang harus kita lakukan untuk sempurnanya satu taubat ?
  • Pertama menyesal terhadap dosa yang telah kita perbuat

Kadang-kadang ada juga orang bertaubat, tapi bukan menyesak terhadap dosa yang telah diperbuat malah puas katanya, dia ngomong sama temannya, “ saya dulu jaman muda kenyang judi, kenyang zina, merempas, mabuk-mabukan sudah puas, sekarang tinggal benarnya saja saya sudah taubat”
Taubatnya memang bagus, tapi puasnya itu yang jelek sobat. kenapa harus dengan puas, sedang ia menyesal apa yang telah dikerjakannya, ini malah puas. Seharusnya kenapa saya tenggelam kedalam perbuatan ini, kenapa saya berbuat perbuatan ini, yaitu menyesal diperintah dan bukan malah puas. Dari rasamenyesal ini nanti timbul hal yang kedua yaitu;
  • Kedua Berniat tidak akan mengulanginya lagi perbuatan dosa

Kalau menyesal tapi masih diulangi lagi, itu belum taubat yang sebenarnya alias dia main-main sama taubatnya itu. Niat yang saya maksudkan disini adalah tidak mengulanginya lagi selama-lamanya. Sahabat Tangga, katanya dia tidak lagi minum-minuman keras, datang temannya, munum yuk, tidak ahh saya sudah taubat, yang benar ? benar kata si taubat tadi. Kalau dibayarin ? ya sudah.
Berarti ini taubatnya itu taubat berbayar sobat, begitu datang yang bayarin datang lagi. Ini belum dikatagori kedalam taubat yang sebenarnya. Kalau memang yang kedua ini lancar terlaksana timbllah yang ketiga yaitu;
  • Ketiga Meninggalkan perbuatan jahat untuk selama-lamanya

Dengan kata lain, kalau memang dia taubat tidak mau minum lagi talak 3 itu minuman keras dan juga hal yang lainnya yang jahat. Jangan sampai hal-hal yang buruk itu kembali dalam kehidupan kita.
  • Keempat Menunaikan semua fardhu dan kewajiban

Sebab barangkali saat kita tenggelam dalam dosa, perintah-perintah Allah jangankan yang sunnah, yang wajib saja kita lalai, maka apabila diri niat bertaubat tunaikan segala kewajiban-kewajiban yang di syari’atkan oleh agama kepda kita.
  • Kelima Meminta halal kepada para lawannya

Sengan kata lain ini adalah dimana kita ada kesalahan kepada orang kita meminta ampun kepada orang yang telah kita sakiti, tapi kalau dia tidak memaafkan itu urusan dia dengan Allah.
Yang ke enam Melatih diri untuk bertaat kepada Allah

Yang ke tujuh Memperbanyak istigfar dalam kehidupan
            Sabda nabi saw
sesungguhnya segala macam penyakit itu tentu ada obanya, dan obat dari segala macam dosa adalah istigfar”

Sahabat tangga, rasulullah saja yang telah mendapatkan jaminan ampun dari Allah baik itu dosa yang dahulu ata dosa mendatang, tapi beliau mengucap istigfar minimal sehari-semalam 70 kali. Lalu bagaimana dengan kita yang belum pasti ada jaminan ampun dari Allah.
Semoga dengan sedikinya penjelasan mengenai taubat, mudah-mudahan bisa memberikan gambaran pintas tentang ciri-ciri orang yang bertaubat. Dengan harapan marilah kita menjadi orang yang bertaubat sebenarnya dengan ciri menyesal terhadap dosa yang telah kita lakukan, meninggalkan perbuatan jahat dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan jahat itu, kalau dia menyangkut hak-hak manusia, maka hak itu harus dikembalikan dan kepada yang bersangkutan kita hasrus meminta maaf. Dan sebaiknya taburilah dengan hal-hal yang baik dalam hidup kita serta memperbanyak istigfar dalam kesempatan dalam perjalanan idup ini.
Read More >>

Artikel Rekomendasi

Berita Online Okezone

Kumpulan Cerita Motivasi | Artikel Motivasi

ShoutMix chat


ShoutMix chat widget

Popular Pos 2