Tampilkan postingan dengan label keluarga bahagia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga bahagia. Tampilkan semua postingan


Keharmonisan hidup berumah tangga adalah salah satu faktor utama dalam membina sesebuah masyarakat yang baik dan terhormat. Rumah tangga yang baik dan harmoni ini sukar diperoleh tanpa adanya kerjasama serta saling hormat menghormati antara suami isteri serta anggota keluarga lainnya.

Suami harus berkelakuan baik dan berakhlak mulia dalam mengendalikan rumah tangganya. Selain itu, ia juga harus senantiasa memperlihatkan contoh-contoh yang baik dalam pergaulan supaya ia mudah diteladani oleh isteri dan anak-anaknya.

Tidak sewajarnya, di dalam rumah tangga, para suami bertindak keras, apalagi bengis hanya karena untuk mengarahkan itu dan ini, serta mau semuanya tersedia untuknya tanpa memikirkan suasana rumah tangga yang memerlukan kasih sayang, kerjasama dan saling bantu membantu.

Dalam kehidupan berumah tangga, Rasulullah Saw telah memberikan sekaligus memperlihatkan suri teladan yang baik yang dapat diikuti oleh seorang suami dalam membina rumah tangganya. Sebagai seorang suami, Rasulullah Saw sangat bertimbang rasa dan bersedia membantu istri dan keluarganya.

Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri, seperti menjahit pakaian, memerah susu kambing dan apabila mau makan Baginda Rasul makan makanan yang tersedia dihadapannya.

Rasulullah Saw sangat marah kepada suami yang ringan tangan, selalu memukul isterinya sebagaimana memukul hamba sahaya. Di samping itu, Rasulullah juga menunjukkan panduan dan contoh tentang hidup tolong menolong serta perasaan kasih sayang kepada isteri. Rasulullah Saw juga menunjukkan suri teladan yang baik, khususnya kepada mereka yang mempunyai isteri lebih dari seorang.

Sebagaimana yang diketahui umum bahwa Rasulullah Saw mempunyai beberapa orang isteri yang terdiri dari berbagai usia. Ada yang masih muda dan cantik, dan ada yang sudah berumur. Walaupun demikian, Rasulullah Saw tidak pernah bersikap pilih kasih dalam layanan kasih sayang diantara mereka.

Masa dan giliran mereka dibuat dengan adil serta cukup rapi sekalipun saat Rasulullah sakit. Apabila Rasulullah Saw hendak berpergian (musafir), maka beliau mengundi antara isteri-isterinya itu dan hanya yang terkena undi (terpilih) saja yang berhak bersamanya berpergian. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari keharmonisan rumah tangga Nabi Saw.
Read More >>
Bisa dibayangkan, bagaimana situasi dalam rumah tangga jika tidak ada lagi kehangatan antara suami istri? Tentunya Anda akan mebayangkan bagaimana hubungan antara suami istri seakan-akan beku. Cinta, sebuah kata yang selalu diagung-agungkan, dan dipupuk supaya terus bersemi, rupanya hanya sebuah hiasan sejarah sebelum atau di awal pernikahan. Semua berubah dan menguap entah kemana. Suasana rumah tangga menjadi sebuah rutinitas yang menjemukan dan membosankan. Keadaan semacam ini bisa terjadi pada siapa pun. Kehidupan rumah tangga yang telah digelar melalui ikatan perkawinan adalah sebuah gambaran dari kondisi makro kehidupan di dunia. Selalu ada dinamika, romantika, dan dialektika untuk mewujudkan kondisi-kondisi yang sesuai dengan kenyamanan dan ketentraman kita.

Memang, terkadang dinamika itu bisa dilampaui secara bersama-sama, suami dan istri, dan keduanya dapat merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan. Tetapi di sisi lain, akan muncul juga perselisihan di antara keduanya hanya karena persoalan-persoalan kecil, yang semestinya tidak perlu menimbulkan perselisihan. Bahkan tidak jarang perslisihan suami istri diselimuti dengan amarah, kekesalan, dan berimbas perang dingin di antara keduanya. Di saat lain lagi, terkadang harus merasakan kejenuhan dalam menjalani rutinitas kehidupan rumah tangga. Ya, semua harus disadari, semua harus dipahami, dan semua harus dimengerti, bahwa semua yang terjadi adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi dalam dialektika kehidupan. Sekali lagi ingat, rumah tangga adalah gambaran dari kondisi makro kehidupan dunia.

Sekali waktu mungkin kita semua berpikir bahwa kehidupan rumah tangga yang akan kita bangun harus berjalan mulus tanpa batu sandungan apapun, diselimuti dengan suasana penuh kebahagiaan, tidak ada perselisihan, dan tidak akan ada kemarahan. Dan jika pikiran-pikiran tersebut terus menuntun jalan hidup kita, maka sadarlah, bahwa kita telah terjebak ke dalam pola pikir yang sangat utopis, terjebak ke dalam angan-angan idealis, dan kita akan terbelalak saat melalui realitas kehidupan yang kelak akan kita hadapi. Yaitu realitas kehidupan rumah tangga yang penuh dengan dinamika, romantika, dan dialektika. Demikianlah kondisi alamiah itu terjadi dalam kehidupan kita.

Karenanya, terimalah dinamika, romantika, dan dialektika itu sebagai anugerah hidup yang akan membuat rumah tangga kita menjadi penuh dengan warna. Semakin banyak dinamika yang harus kita lalui, semakin banyak romantika yang harus kita jalani, dan semakin banyak dialektika yang harus kita hadapi, maka sesungguhnya, semakin banyak lah kita mengenyam pengalaman hidup. Dan jika kita menjalani semua proses kehidupan itu, tidak terkecuali dalam rumah tangga, dengan penuh keikhlasan, maka secara tidak langsung kita telah mengekspresikan rasa bersyukur di hadapan Allah SWT.

Read More >>
Ketika seorang wanita memutuskan untuk menikah sudah barang tentu mereka ingin menjadi istri yang baik dalam rumah tangga. Tetapi, menjadi istri yang baik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi jika kondisi dalam rumah tangga, antara pria dan wanita sama-sama meniti karier. Ya, banyak alasan yang dapat menghambat wanita untuk menjadi istri yang baik. Hal ini tidak saja terjadi pada wanita, sebalikknya pun begitu. Para pria juga tidak lah mudah menjadi suami yang baik. Namun, apabila suami maupun istri dapat saling mendukung satu sama lain, dan mampu mengatur keseimbangan dalam rumah tangga, setidaknya predikat sebagai suami istri yang ideal sudah pasti kita dapatkan.

Sejarah memang membutuhka keseimbangan dalam setiap lekuk fenomena kehidupan. Tanpa keseimbangan, semuanya akan berjalan tanpa arah. Dialektika dalam kehidupan tidak lah dapat menemukan titik sintesa saat tesis dan antitesis saling berhadapan. Tanpa keseimbangan, seorang pria mungkin tidak akan mampu menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya. Tanpa keseimbangan, seorang wanita juga mustahil menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Tanpa keseimbangan, kita semua akan menemui ketimpangan dalam kehidupan sehari-hari. Lantas, keseimbangan seperti apa yang paling mempengaruhi keharmonisan dalam rumah tangga? Memang peran pria dan wanita harus saling mendukung. Tetapi, tidakkah wanita dengan berbagai kelebihan dan keunggulan alamiahnya akan tampil lebih dominan dalam menciptakan keharmonisan rumah tangga? Beberapa hal yang dapat menuntun wanita dalam menciptakan keharmonisan rumah tangga antara lain :
Berbicara mengenai keseimbangan peran barangkali kita akan berimajinasi tentang apa yang sudah kita lakukan dan apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan kita. Hal tersebut sangat manusiawi, dan banyak terjadi dalam rumah tangga. Tetapi bukankah lebih baik, sebagai wanita untuk memulai membuka pembicaraan tentang pembagian peran tersebut. Untuk mencapai keseimbangan peran, dibutuhkan kesadaran kedua belah pihak untuk menempatkan segala sesuatu pada porsi yang tepat. Persoalan pekerjaan ditempatkan di tempat kerja, usahakan untuk tidak membawa pulang dalam rumah tangga. Begitupun sebaliknya, persoalan dalam rumah tangga dengan segala bentuk dinamikanya jangan pernah keluar dari dalam rumah Anda sendiri. Memang, menghadirkan kesadaran bukanlah hal mudah terutama jika suami istri adalah pasangan pekerja atau berkarier. Oleh karena itu harus ada komunikasi yang baik antara pria dan wanita dengan mengesampingkan emosi saat berbicara mengenai keseimbangan peran. Saling pengertian untuk tidak saling menggangga ketika masing-masing sedang menjalankan tugasnya adalah salah satu kunci.

Keseimbangan dan fleksibilitas waktu pun perlu menjadi perhatian. Perlu ditekankan agar tidak terlalu memaksakan suatu keadaan apabila kondisi memang tidak memungkinkan. Segala pekerjaan dalam rumah tangga tidak harus dipatok pada suatu tatanan yang baku. Rumah tangga jangan dibuat kaku, suami harus begini, istri harus begitu. Hal yang demikian tentunya akan merepotkan jika keduanya adalah pekerja. Fleksibilitas adalah kuncinya, karena memang kita tidak bisa memastikan pada suatu kondisi yang ideal. 

Diskusi terbuka adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan antara suami dan istri. Dalam hal ini, ketika salah satu dari suami/istri tidak dapat mengerjakan tugas dalam rumah tangga, salah satu dari keduanya berbuat satu kesalahan, atau mengalami kegagalan dalam suatu keadaan, maka jangan langsung diributkan. Evaluasi adalah hal terpenting untuk menghadapi suatu kesalahan, bukannya mengungkit kesalahan tersebut agar salah satu pihak merasa terpojok. Tidak ada manfaatnya untuk membuat salah satunya terpojok. Bukankah ketika satu kesalahan sudah terjadi kita tidak bisa mengulang waktu lagi? Langkah yang harus diambil adalah memperbaiki kesalahan tersebut atau jka hal ini tidak memungkinkan, mendiskusikan langkah terbaik untuk menghadapi resiko dari kesalahan atau kegagalan tersebut. Dengan demikian, tidak perlu lagi menghadirkan amarah dalam rumah tangga, dan yang pasti, yakinlah, bahwa rangkaian kegagalan, rangkaian kesalahan, atau rangkaian kesalah pahaman adalah sebuah rangkaian untuk menuju keberhasilan, sebuah rangkaian untuk melakukan kebaikan, dan sebuah rangkaian untuk saling memahami. Semoga Anda mampu menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis. Sejarah akan membibing kita semua.
Read More >>
Menjadi orang tua berarti Anda menjadi contoh bagi anak. Oleh karena itu tuntutan untuk menjadi figur yang baik bagi anak tidak hanya ditunjukkan melalui sikap tetapi juga melalui perkataan Anda.

Anak dalam masa pertumbuhannya akan cepat menyerap dan memasukkan setiap kata yang dikeluarkan orang tuanya. Sehingga, perhatikanlah beberapa kalimat yang akan Anda sampaikan seperti yang dikutip pada Times of India, meliputi:
1. "Kalau kamu... maka ibu/ayah akan memberimu... "
Biasanya dalam keadaan mendesak Anda akan mengatakan "Kalau kamu berperilaku baik, ibu/ayah akan memberikan..." beragam pilihan tentu akan disebutkan seperi waktu bermain ekstra, permen, coklat, atau mainan baru. Memberikan imbalan seperti ini adalah metode tertua dalam mengasuh anak, tetapi Psikiater dr Pervin Dadachanji ini dapat menjadi hal yang serius.

"Memberikan penawaran secara teratur pada anak akan membuat perilakunya tergantung pada stimulus eksternal. Jika anak mendapatkan imbalan dia akan bersikap baik," kata dr Pervin. Ini akan menyebabkan anak-anak tumbuh dengan otoritas dari orang dewasa. Anak-anak seperti ini akan menjadi anak yang melanggar lalu-lintas ketika tidak ada polisi.

Sebaliknya, jika Anda menawarkan permintaan sebaiknya Anda juga menawarkan rasa terimakasih yang tulus. Ucapkan terimakasih pada anak ketika anak membantu membawakan tas belanjaan.

Ini akan menjadi motivasi bagi mereka dan juga ini akan memberitahu mereka perilaku apa yang Anda harapkan dari mereka. "Katakan pada anak mengapa penting bagi mereka untuk tenang. Dan pastikan untuk mempertimbangan harapan Anda. Meminta anak 3 tahun untuk diam selama 1 jam tentu saja akan gagal," ungkapnya.

2. "Berhentilah menangis sekarang atau ...!"

Tanpa disadari kalimat ini merupakan kalimat yang mengancam anak dan membuatnya membayangkan hal-hal yang buruk. Kalimat ini mungkin akan membuatnya diam tetapi secara tidak langsung Anda mengajarkan anak bahwa menunjukkan kekuasaan adalah cara terbaik untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan.

dr Pervin pun menambahkan jika ancaman ini tidak ditindaklanjuti, anak akan belajar bahwa Anda hanya sekedar membual dan bisa jadi anak akan berhenti mendengarkan Anda sama sekali.

Hal yang tepat untuk dilakukan adalah jelaskan mengapa dan apa yang anak lakukan adalah hal yang tidak benar. "Misalkan, anak membuat kegaduhan, beritahukan pada anak bahwa hal itu mengganggu ketika Anda sedang berbicara di telepon," sarannya.

3. "Ibu/ayah berjanji..."

Terkadang sebagai orang tua sangat mudah untuk mengucapkan janji dan melupakannya karena dianggap remeh. Ada satu hal yang harus diingat oleh orang dewasa yaitu ketika orang dewasa melanggar janjinya, anak-anak tidak.

Gopika Kapur, penulis Spiritual Parenting, mengatakan bahwa jika orangtua terus membuat janji hanya untuk mengingkarinya, anak akan berhenti berharap apapun dari Anda. "Itu karena mereka ingin melindungi diri dari kekecewaan," katanya.

Sebaliknya, beritahu mereka bahwa Anda akan mencoba yang terbaik. Gopika menambahkan agar orangtua mencoba jujur jika tidak dapat menepati janji. "Itu bukanlah hal yang sulit dijelaskan. Katakan pada anak bahwa Anda memiliki pekerjaan yang penting dan ucapkan maaf serta buatlah janji yang baru," katanya. Hal ini akan mengajarkan pada anak untuk maju dan mengambil tanggung jawab atas sebuah kegagalan.

Nah, selain ketiga hal diatas mulailah untuk memberikan pujian kecil yang berarti. Pujian-pujian seperti "Ya, kamu berhasil memakai sepatu sendiri," atau "Hore, kamu berhasil melakukannya!".

Dengan pernyataan yang berfokus pada usaha anak dan bukan hasil, ini akan mengajarkan anak untuk menjadi lebih teliti ketika mencoba tugas tertentu yang menantang.
Read More >>
                            
Setiap anak yang tumbuh dan berkembang, sebelum ia mengalami proses pendidikan di sekolah, sejatinya berasal dari rumah tempat ia menjalani hari-harinya bersama keluarga. Karena itu orangtualah yang memegang peran yang sangat penting dalam hal pendidikan anak, walaupun ada beberapa kondisi yang menyebabkan anak tidak bisa mendapatkan pendidikan dari orang tuanya, seperti anak yatim piatu semenjak lahir, anak yang dibuang oleh orang tuanya dll. Tetapi dalam kondisi normal, orang tua merupakan pendidik anak yang pertama dan utama. Bahkan dalam Al-Qur’an serta Sunnah banyak sekali ditegaskan tentang pentingnya mendidik anak bagi para orang tua. Anak yang terdidik dengan baik oleh orang tuanya akan tumbuh menjadi anak yang pandai menjaga dirinya dari pengaruh buruk lingkungan, karena ia telah dibekali oleh ilmu tentang hidup dan kehidupan yang di dalamnya terdapat ilmu yang paling bermanfaat yaitu ilmu agama.
Banyak sekali sekolah-sekolah yang memfasilitasi kita untuk menjadi seperti apa yang kita cita-citakan walaupun tidak selalu terwujudkan, ingin menjadi dokter ada sekolahnya, ingin menjadi guru juga ada sekolahnya begitupun dengan Profesi lain. Tetapi adakah sekolah untuk menjadi orang tua? Padahal setinggi apapun karier kita dalam profesi tertentu, sejatinya kita akan tetap menjalani fitrah yang sama yaitu menjadi orang tua, walaupun tidak semua orang ditakdirkan Allah SWT untuk dapat memiliki anak, maka bersyukurlah bagi kita yang diamanahi Allah SWT anak-anak yang menjadi penyejuk mata dan harapan di masa yang akan datang.
Setiap orang tua harus senantiasa belajar tentang ilmu mendidik anak karena tidak ada Sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tetapi banyak sekali yang dapat memfasilitasi hal itu jika kita bersungguh-sungguh ingin belajar menjadi orang tua yang baik, terutama di zaman ini dimana perkembangan ilmu dan teknologi begitu cepat dan mampu menembus ruang dan waktu. Orang tua yang memiliki bekal ilmu dalam mendidik anak akan sadar tentang pentingnya pendidikan anak sejak usia dini bahkan sejak anak masih berada di dalam rahim ibu, bahkan menurut penelitian, kondisi ibu saat hamil sangat mempengaruhi akhlak anak, bila ibu mampu menjaga diri dari makanan-makanan yang tidak halal dan juga perilaku-perilaku yang tidak terpuji Insya Allah anak yang lahir akan menjadi anak yang sholeh. Karena tidak ada bayi yang terlahir kecuali suci, namun ia mencontoh dari orang tua, tontonan televisi/media, guru dan lingkungan pergaulannya.
Peran Ayah
Selain faktor kondisi ibu, ada hal lain yang tak kalah pentingnya dalam pendidikan anak sejak dini yaitu peran ayah yang merupakan patner ibu dalam membentuk generasi yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Sejak anak masih berada dalam kandungan, peran suami dalam memberi dukungan serta kasih sayang pada istrinya dapat mempengaruhi kondisi kehamilan, bayi yang berada dalam kandungan ibu pun harus diajak berinteraksi oleh ayah dan ibunya sebagai tahap awal dalam mendidik anak. Selain itu memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an juga terbukti dapat meningkatkan kecerdasan anak terutama kecerdasan emosi dan spiritual.
Dalam program Make Indonesia Strong from Home, seorang pemerhati anak yang biasa di panggil Ayah Edy, mengajak kita untuk membentuk masyarakat yang beradab dengan dimulai dari rumah kita masing-masing, dengan cara mendidik diri kita untuk menjadi orang tua yang dapat mendidik anak-anak kita secara benar, menjalankan kewajiban-kewajiban kita sebagai orang tua dan memberikan apa yang menjadi hak anak-anak kita. Ternyata banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah anak diantaranya kondisi rumah yang tidak harmonis dimana orang tua mereka tidak dapat menjadi tempat yang nyaman bagi mereka untuk mereka berbagi rasa. Bahkan tidak jarang dari mereka yang mendapat kekerasan dari orangtuanya baik itu secara fisik maupun secara psikis dan lebih memprihatinkan lagi diantara mereka pun mendapatkan kekerasan seksual dari orangtuanya.
Hal-hal itulah yang membuat karakter mereka menjadi cenderung senang berbuat kekerasan, karena merekapun dibesarkan dengan kekerasan, jadi ada semacam pelampiasan di mana mungkin mereka tidak dapat melampiaskannya kepada orang tua yang telah memperlakukan mereka dengan kekerasan maka mereka melampiaskannya kepada orang lain. Padahal Rasulullah adalah manusia yang bersikap lemah lembut terutama pada anak-anak.
Kekerasan yang di terima anak dari orang tuanya di rumah dapat menjatuhkan harga diri anak sehingga membuat mereka mencari penghargaan dari lingkungan di luar rumah terutama dari teman-teman. Mereka menjadi pribadi yang rapuh dan labil, mudah terpengaruh dan melakukan apapun agar mendapatkan pengakuan akan eksistensi mereka. Merokok agar dibilang hebat, bergabung dengan sebuah komunitas agar dibilang gaul, berpenampilan aneh agar di bilang trendy, hingga terjerumus dalam narkoba yang dianggap dapat membuat segala masalah mereka menjadi hilang, dan pergaulan bebas untuk mencari kasih sayang yang tidak mereka dapatkan di rumah kemudian akhirnya berzina untuk mendapatkan kenikmatan sesaat. Naudzubillah.
Lingkungan yang buruk membentuk anak menjadi seorang yang berkarakter buruk, menyelesaikan masalah dengan kekerasan, dan dengan kekerasan mereka menganggap masalah akan selesai padahal kekerasan yang dilakukan akan menimbulkan kekerasan yang lain. Sebagai contoh adalah kasus tawuran yang sekarang ini marak terjadi, kebanyakan pemicunya adalah kekerasan yang dilakukan baik itu berupa bullying yang diterima oleh seseorang baik itu berupa ejekan, hinaan, maupun kekerasan fisik yang berujung timbulnya rasa solidaritas dari komunitas orang itu untuk melakukan pembalasan terhadap apa yang dilakukan pada teman mereka kemudian terjadilah penyerangan yang selalu berkelanjutan. Andai mereka tahu bahwa kekerasan tidak pernah dapat menyelasaikan masalah bahkan hanya membuat masalah yang baru.
Peran Guru
Begitupun dengan pentingnya peran guru dimana anak-anak itu bersekolah, begitu kagetnya kita saat melihat di televisi ada oknum guru yang melakukan kekerasan pada anak didiknya ditambah sistem pendidikan yang terlalu fokus pada nilai ujian ketimbang penanaman nilai akhlak. Guru yang seharusnya menjadi orang yang di gugu dan ditiru terkadang belum memahami betapa mulia tugas yang di embannya yaitu sebagai pendidik generasi.
Selama ini banyak dari para guru hanya menjalankan tugasnya sebagai pengajar bukan sebagai pendidik. Bagi mereka yang terpenting target kurikulum sudah mereka sampaikan pada anak didik tanpa memberi ruh pada setiap apa yang mereka sampaikan. Karena itu negeri ini merindukan hadirnya guru-guru seperti bu Muslimah dalam Film Laskar Pelangi, Ustadz Salman dalam Negeri Lima Menara dan guru-guru lain yang ternyata ada dalam kehidupan nyata dan mampu menginspirasi anak-anak didik mereka tuk menjadi sukses.
Tampaknya pemerintah pun perlu belajar dari negeri-negeri lain seperti Jepang yang begitu menghargai profesi guru sehingga diharapkan dengan penghargaan yang layak, guru-guru negeri ini dapat termotivasi tuk lebih maksimal lagi dalam meningkatkan kualitas diri mereka sebagai pendidik dan tak lagi sibuk berdemo untuk meminta kenaikan gaji karena kesejahteraan hidup mereka yang kurang, sementara itu anak-anak murid mereka menjadi terbengkalai hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan.
UAN Bikin Stres
Wajah anak-anak negeri inipun dipenuhi dengan beban-beban psikis tak hanya mereka dapatkan dari rumah tetapi dari sekolah yang menerapkan sistem Ujian Akhir Nasional (UAN) yang membuat mereka stres, jika dibandingkan dengan negara Finlandia yang merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik No 1 sedunia. Maka Indonesia harus belajar bagaimana negara Finlandia menerapkan ujian nasional berupa ujian moral bukan ilmu pengetahuan umum seperti di negara kita. Untuk Ilmu Pengetahuan Umum, pemerintah mereka menyerahkannya kepada sekolah masing-masing karena dianggap sekolahlah yang paling mengetahui sejauh mana materi yang telah disampaikan oleh para guru dan sejauh mana kemampuan anak didik mereka.
Tetapi sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah Finlandia sangat berpengaruh pada karakter warga negaranya, di Finlandia jika mereka tidak sengaja menyenggol orang ketika sedang berjalan maka mereka akan langsung meminta maaf bandingkan dengan di negara kita banyak kasus perkelahian yang terjadi hanya karena tidak sengaja menyenggol seseorang. Untuk urusan tindak kriminal pun di Finlandia memiliki presentase yang terendah, bahkan katanya walaupun kita memparkir kendaraan kita tanpa menguncinya, kita tetap merasa aman. Subhanallah, bukankah wajah negeri seperti itu yang seharusnya menjadi wajah Indonesia dimana mayoritas warganya beragama Islam?
Mari perhatikan anak-anak yang harus mengikuti sistem pendidikan negara ini, menjelang UAN mereka tampak stress, berbagai ritual mereka ikuti mulai dari teriak massal yang diyakini dapat membuang stress dan menciptakan rasa lega, bahkan diantara mereka mengikuti ritual yang bernuansa klenik. Tidak selesai di situ, pada saat UAN tiba beberapa sekolah tertangkap tangan sedang memberikan contekan demi meluluskan anak didiknya. Bagaimanakah anak-anak negeri ini dapat menjadi wajah penuh kebaikan jika hidup dalam lingkungan yang keras dan penuh ketidak jujuran, orang tua dan guru yang mestinya menjadi teladan kebaikan tetapi malah mengajarkan hal yang sebaliknya.
Masih lekat dalam ingatan kita tawuran yang terjadi antara pelajar SMK Kartika Zeni dan SMA Yayasan Karya 66 . Akibat tawuran itu satu orang pelajar tewas. Beberapa tersangka tawuran berhasil diamankan oleh pihak berwajib, saat Menteri Pendidikan M.Nuh bertanya kepada salah seorang pelaku pembunuhan tentang bagaimana perasaannya, dengan santainya ia menjawab “ saya puas telah membunuhnya.” Satu hal lagi yang perlu kita ketahui, bahwa pelaku tawuran yang membunuh rekannya sesama pelajar di Bulungan merupakan siswa yang semasa SMP selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya. Ternyata kepintaran siswa/I kita tidak lantas menjadikan mereka pribadi yang berakhlakul karimah.
Semua masalah yang terjadi pada anak-anak negeri ini bagaikan mata rantai yang saling berkaitan satu sama lain. Karenanya sebagai orang tua, guru dan juga pemerintah harus saling mendukung dalam hal pendidikan anak. Peran orang tua adalah menjadi pendidik anak yang utama, dan harus diingat bahwa mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu, tetapi kehadiran seorang ayah dalam hal mendidik anak juga tidak kalah pentingnya. Bukankah di dalam Al-Qur’an begitu banyak ayat-ayat yang mengabadikan kisah para ayah yang mendidik anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT diantaranya kisah Lukman dengan anaknya serta Nabi Ibrahim as dengan Nabi Ismail as anaknya.
Sementara yang terjadi pada saat ini banyak anak-anak kita kehilangan figur seorang ayah, bagi mereka ayah adalah sosok yang harus ditakuti, karena ayah menempatkan diri hanya sebagai pemberi nafkah dan orang yang memiliki kekuasaan atas istri dan anak-anaknya bukan sebagai teladan yang dapat dijadikan sahabat untuk berbagi sehingga tercipta suasana penuh keakraban yang membuat anak merasa aman dan nyaman. Ibu dan ayah hendaknya selalu meluangkan waktu membuka komunikasi dengan anak, mendengarkan pendapat serta perasaan anak, berdiskusi dengan anak tentang perilaku baik dan buruk serta konsekuensinya, dan semua itu harus dikemas dalam nilai-nilai agama yang berorientasi pada akhirat.
Sebagai orang tuapun hendaknya menjadikan rumah sebagai tempat dimana anak merasa nyaman sehingga kemanapun anak pergi, ia dapat merasakan kerinduan untuk kembali ke rumah karena di rumah ia mendapatkan apa yang ia butuhkan, dan rumah yang ternyaman adalah rumah yang senantiasa menghadirkan Allah SWT di dalamnya, rumah yang menjadi Baiti Jannati, surga sebelum surga yang sebenarnya. Jika orang tua selalu menghadirkan Allah SWT dalam diri anak, maka anak akan selalu merasakan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindak tanduknya.
Oleh sebab itu sebagai orang tua marilah kita sama-sama memperbaiki pola asuh kita, anak adalah amanah Allah SWT yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapanNya kelak. Begitupun peran guru yang menjadi pengganti orangtua di sekolah, guru pun memiliki peran penting dalam membentuk akhlak anak didiknya dan pemerintah harus memberikan perhatian yang besar dalam memperbaiki sistem pendidikan yang lebih ramah anak dan lebih menitik beratkan kepada Nilai Akhlak dan Moral.***Wallahu a’lam.
Read More >>

Artikel Rekomendasi

Berita Online Okezone

Kumpulan Cerita Motivasi | Artikel Motivasi

ShoutMix chat


ShoutMix chat widget

Popular Pos 2